English French German Spain Italian Dutch
Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Selasa, 03 Mei 2011

Kurangi Ngorok Dengan Berjemur

Banyak manfaat yang bisa didapat dari hobi berjemur di bawah sinar matahari pagi. Sinar matahari dibutuhkan dalam proses pembentukan vitamin D, yang tak hanya baik untuk kulit dan tulang tapi juga bisa mengurangi dengkuran saat tidur.

Para peneliti dari University Hospital di Clermont-Ferrand, Prancis meyakini otot manusia juga butuh vitamin D untuk dapat bekerja dengan optimal. Tak terkecuali otot-otot pernapasan, yang melemah pada orang-orang dengan gangguan tidur suka mendengkur.

Melemahnya otot-otot pernapasan membuat rongga udara menyempit sehingga bergetar ketika dilalui udara. Getaran itu menimbulkan bunyi dengkuran, yang tak hanya mengganggu pasangan tidur tetapi juga berbahaya karena bisa memicu henti napas hingga 400 kali dalam semalam.

Kegemukan selama ini disebut-sebut sebagai salah satu faktor pemicu dengkuran, meski penyebab sesungguhnya tidak diketahui. Melemahnya otot-otot di sekitar tenggorokan merupakan penyebab lain yang diharapkan bisa diatasi lewat pemberian suplemen vitamin D.

Sinar matahari memang bukan sumber vitamin D, sehingga tidak memberikan manfaat secara langsung dalam mengatasi dengkuran. Namun sinar matahari sangat dibutuhkan dalam proses pembentukan vitamin D, yang diolah dari provitamin D dalam makanan sehari-hari.


Beberapa makanan yang merupakan sumber utama vitamin D maupun provitamin D antara lain ikan salmon, bayam, kedelai dan jus jeruk. Susu dan berbagai produk olahannya seperti keju dan yoghurt juga termasuk sumber utama vitamin D yang mudah ditemui sehari-hari.

Untuk membuktikan manfaat vitamin D bagi otot, para peneliti kini tengah melakukan uji klinis terhadap 80 pasien dengan keluhan sering mendengkur. Selama kurang lebih 32 hari, sebagian pasien akan diberikan suplemen vitamin D dan sebagian lainnya diberikan plasebo.

Suplemen Lebih Sulit Diserap Daripada Vitamin C dari Buah

Suplemen memang memberikan kemudahan untuk mendapatkan vitamin C dalam dosis tinggi. Namun mendapatkan vitamin C langsung dari buah segar lebih dianjurkan, karena lebih mudah diserap dan mampu bertahan lebih lama di dalam tubuh.

Selain itu, makan buah juga memberikan manfaat yang lebih banyak dibanding minum suplemen karena buah tidak hanya mengandung vitamin C. Di samping vitamin, buah-buahan mengandung serat dan senyawa fitokimia lainnya yang penting bagi tubuh.

Pakar gizi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dr Fiastuti Witjaksono, MS, SpGK menyampaikan hal itu dalam media workshop di Restoran Merah Delima, Kebayoran Baru, Selasa (3/5/2011), yang diselenggarakan oleh pemasar buah Kiwi asal Selandia Baru, Zespri (R).

"Untuk bisa diserap oleh tubuh, vitamin C butuh lingkungan yang mendukung. Buah memiliki lingkungan semacam itu karena mengandung komponen lain seperti serat dan berbagai fiktokimia," ungkap Dr Fiastuti.

Sebuah eksperimen pada mencit yang dilakukan para ilmuwan di Otago University menunjukkan, vitamin C dari buah bisa diserap 5 kali lebih cepat dibanding suplemen vitamin C. Bioavailibilitas atau kadar vitamin C di dalam tubuh juga bertahan lebih lama ketika diberikan dalam bentuk buah.

Dalam penelitian tersebut, buah yang digunakan adalah buah Kiwi atau Chinese Gooseberry. Dibandingkan jenis buah lainnya, Kiwi termasuk jenis buah dengan kandungan vitamin C paling tinggi yakni 105,4 mg dalam tiap 100 g daging buah yang siap dimakan (edible flesh).

Di dalam tubuh manusia, vitamin C diperlukan sebagai antioksidan. Normalnya seseorang membutuhkan asupan vitamin C sebanyak 45 mg/hari, sedangkan pada kondisi tertentu misalnya ibu hamil butuh 60 mg/hari dan pada masa menyusui butuh 85 mg/hari.

Vitamin C dibutuhkan dalam kadar lebih banyak lagi jika seseorang sering terpapar polusi dari lingkungan, terutama bagi yang hidup di kota-kota besar. Polusi yang tinggi memicu radikal bebas, pemicu kanker yang bisa ditangkal dengan antioksidan.